MAJENE, OKEDONE.COM – Beberapa hari terakhir Majene menjadi sorotan dengan adanya insiden antara STIKes BBM dan HMI. Diketahui persoalan dari kedua belah pihak sudah berakhir dengan kesepakatan damai. Kesepakatan yang tercapai dibuktikan dengan pernyataan resmi dalam bentuk video menyikapi insiden yang ada.
Menurut Demisioner Korda BEMNus Sulbar, Abdul Wahab, STIKes BBM dan HMI adalah dua belah pihak yang layak menjadi contoh nyata dalam penyelesaian sebuah insiden yang berpotensi melahirkan konflik berkepanjangan.
“STIKes BBM dan HMI menunjukkan jiwa seorang ksatria dengan memilih langkah positif guna memutus potensi adanya konflik berkepanjangan. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya kedua belah pihak kita beri apresiasi,” ujar Wahab via whatsapp, Majene (18/3/2025).
Ia menambahkan, “Sikap lain dan jauh berbeda justru dipertontonkan Polres Majene yang hingga detik ini belum membuat pernyataan maupun sikap resmi di ruang publik mengingat potensi konflik baru bisa saja lahir akibat dinamika lain yang terbangun di sosial media (sosmed).”
Akun sosmed dengan berbagai latar belakang silih berganti menyampaikan pandangannya di beranda maupun kolom komentar. Bukan hanya masyarakat umum, seseorang yang dianggap figur atau tokoh masyarakat pun tidak mau kalah dengan memilih turut angkat bicara.
“Banyak kalangan larut dalam konflik kedua belah pihak di sosmed. Namun, sangat disayangkan narasi yang terbangun cenderung bersifat kontra produktif dengan konsekwensi terjerat persoalan hukum,” imbuhnya.
Ia menilai Polres Majene memiliki tanggungjawab untuk menjadi penengah dengan melakukan upaya pencegahan di tengah riuhnya sosmed dan potensi tindakan dalam bentuk lain yang dapat melahirkan konflik baru.
“Polres Majene punya tanggungjawab sosial. Tapi, kenapa justru terkesan mau lepas tanggungjawab dan apatis?” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa di luaran muncul asumsi liar. Salah satunya, dugaan adanya kemungkinan Polres Majene agak tendensius ke HMI.
Lebih jauh lagi kerinduan terhadap Bapak Kapolres Majene terdahulu kembali mengemuka. Nilai positif yang ditinggalkan menjadi tolak ukur perbandingan dengan Kapolres Majene hari ini dalam menunaikan tupoksi sebagai yang bukan hanya penegak hukum, melainkan sebagai pengayom nyata di tengah masyarakat Majene.
“Insiden awal yang terjadi sejatinya tidak terlepas dari tanggungjawab Polres Majene sebagai instrumen negara dalam mengamankan jalannya sebuah aksi demonstrasi. Kita semua dapat melihat akibat tidak optimalnya kinerja Polres Majene mengakibatkan terjadi insiden yang sangat sangat tidak diinginkan,” terangnya.
“Polres Majene juga memiliki tanggung jawab sosial yang tidak kalah pentingnya dalam menjaga kondusifitas Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) di Majene,” timpalnya.
Ia mengharapkan kegagalan Polres Majene di awal dalam mengawal dan mengamankan aksi unjuk rasa tidak berulang dengan lahirnya insiden lain.
Terkhusus Kapolres Majene, AKBP Muhammad Amiruddin, ia juga berharap beliau dapat mengambil langkah konkret dan solutif untuk memutus mata rantai potensi terjadinya konflik baru sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap publik.
“Pernyataan sikap dan atau himbauan melalui konferensi pers kepada masyarakat bisa menjadi satu opsi buat Kapolres Majene. Seruan menahan jari juga diri menjadi urgent agar berbagai pihak tidak larut dalam konflik dari kedua belah pihak yang justru sudah berakhir dengan mulia,” pungkasnya. (akb/red).













